…equator…

Standar

Akhirnya draft postingan ini ketemu juga.  Lama sudah sayamencarinya dan tak sengaja ketemu di bawah lipatan buku.  Tapi terpaksa harus di perbaiki sana sini dulu, menyesuikan dengan kondisi ‘kekinian’ wkwkw.

Ini adalah perjalanan saya menuju Kab. Pasaman.  Wilayah paling ujung di Sumatera Barat dan berbatasan langsung dengan Sumatera Utara.  Nah, bayangkan saja betapa jauhnya perjalanan.  Tetapi karena permintaan untuk memfasilitasi Forum Ank di Kabupaten ini, maka persiapan menuju daerah ini kami lakukan jauh jauh hari.

Kami memutuskan untuk berangkat menggunakan sepeda motor, pertimbangannya agar perjalan yang jauh bisa kami nikmati bersama.  Bayangkan kalau menggunakan travel atau bus umum, maka sudah pasti terasa membosankan.

Perjalanan menuju Lubuk Sikaping, Kab. Pasaman dimulai.  Kami memutuskan untuk berangkat sehari sebelum kegiatan Forum Anak dilaksanakan.  Alasannya takut telat.  Oleh karena itu, perjalanan ini kami bagi menjadi dua segmen (cieeee).

Segmen pertama adalah Padang-Bukittinggi.   Ini adalah rute biasa kami lalui, jadi sudah sangat hafal lah jalannya.  Tidak ada yang perlu disampaikan lagi, hampir semua orang sudah kenal dekat dengan Bukittinggi, kota eksotis yang menyimpan berabeka ragam pesona alam, kuliner dan kerajinan.  Di bukitinngi kami menginap semalam untuk melanjutkan perjalanan ke esokan harinya menuju Pasaman.

Segmen kedua adalah Bukittinggi-Lubuk Sikaping Pasaman.  Nah inilah perjalanan yang menakjubkan.  Pukul 07.00 WIB kami meluncur arah Pasaman.  Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kami.  Karena takut terlambat, kami nekat.  Selepas meninggalkan Bukittinggi, kami memasuki wilayah Kab. Agam.  Perjalanan mulai mempesona.  Jalanan berkelok-kelok tak henti, hampir 2 jam lamanya.  Anda bisa bayangkan betapa pusingnya kalau menggunakan mobil atau kendaraan umum.  Kami menmpuh hutan belantara, jalanan sunyi, tetapi indahnya perjalanan karena ditingkahi suara burung.  Palupuh, sebuah daerah yang kami lewati dan merupakan wilayah administratif Kab. Agam, sebelum memasuki Kab. Pasaman.

Hutan Sumatera dan bau lembabnya kentara sekali.  Pepohonan yang kami lihat adalah pepohonan khas hutan tropis.  Jenis pkis pakisan mulai yang kecil hingga berukuran besar terlihat dimana-mana, jelas sekali bahwa ini adalah lokasi hutan lindung.  Mengingat itu kami bergidik, “bukankah ini adalah lokasi hidupnya Panthera Tigris alias Harimau Sumatra yang langka itu ?” tanya seorang teman. Kami tak sanggup membayangkan, jika si Raja Rimba itu tiba-tiba menghadang perjalan kami.

Akhirnya perjalanan melewati hutan selesai.  Kami memasuki daerah Bonjol.  Daerah ini memiliki kisah yang panjang, basis perjuangan Tuanku Imam Bonjol, pada zaman Perang Paderi zaman dahulu kala.  Selain karena erat dengan cerita sejarah, Bonjol adalah salah satu lokasi di Indonesia dimana merupakan jalur lintang nol derajat garis Equator.  Konon kabarnya dua kali dalam setahun, masyarakat ramai-ramai merayakan detik-detik NOL DERAJAT, dimana pada saat itu, siapapun dan apapun yang berada di bawah matahari, tidam memperlihatkan bayangan sedikitpun.  Matahari tepat tegak lurus berada di puncaknya.  Kamipun tak kuasamenahan hasrat untuk berfoto bersama.  Ada rasa yang tak terkira, manakala mengingat bahwa kami saat itu berada di TITIK NOL, tapi sayang, kami datang pada saat yang tidak tepat dan kami tidak merasakan sensai MATAHARI  TEGAK  LURUS, sensasi TANPA BAYANGAN.

Di lokasi tugu Equator tersebut terdapat sebuah museum.  Museum Imam Bonjol namanya.  Didepan museum itu berdiri sebuah patung besar seekor kuda putih yang ditunggangi oleh Tuanku Imam Bonjol.   Gagah sekali.

Puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan.  Lalu menunaikan tugas dan menikmati hari bersama anak-anak muda Pasaman.

Iklan

5 thoughts on “…equator…

  1. wahwahwah… seperti terbawa kesana…. saya juga begitu… ketika pulang kampung, pemandangan begitu sangatr sering dijumpai. global warming, krisis dunia, ramalan kiamat, seakan sirna ketika melihat pemandangan asri hutan sumatra… ahh.. bang imoe… tak pernah ngajak…

  2. itu rute yang sering catra lalui di tahun 97-2000 bg. rute yang melewatu bukittinggi, palupuh, lurah barangin hingga ke rimbo panti. benar sekali, harimau sumatera hidup di hutan sana. Papa catra pernah melihat hewan tersebut melintas di tengah jalan raya.:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s