…belajar arif dari anak-anak kita…

Standar

Sabtu, 25 September 2010 yang lalu, saya dan teman-teman melaksanakan kegiatan Workshop Analisis SWOT Organisasi bagi Pengurus Forum Anak se-Sumatera Barat di Gran Malindo Hotel Bukittinggi. Di awal kami memperkirakan bahwa materi ini berat bagi anak-anak usia 10-17 tahun. Tapi kami akhirnya memutuskan untuk tetap memebrikan materi ini, karena walalu bagaimanapun anak-anak harus diajarkan mengelola organisasi dengan baik. Tentunya ada penyederhanaan cara penyampaian konsep dan diserta contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Alhamdulilah ternyata anak-anak mampu memahaminya, jauh diluar kekuatiran kami.

Tidak soal pelatihan yang akan saya ceritakan. Tetapi ada salah satu bagian dalam seluruh rangkaian kegiatan itu yang menraik untuk saya bagi. Apa itu ?

Sore itu, kami panitia dan fasilitator memutuskan akan membawa diskusi kelompok, menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman organisasi ke luar ruang alias outdoor. Tempat yang kami pilih adalah Panorama Lobang Jepang. Tentu saja tawaran ini disambut antusias anak-anak. Maka sore itu juga kami menuju TKP.

Nah, inilah pemandangan menarik. Di lokasi, sambil mengawasi diskusi anak-anak di setiap kelompok, mata saya tertuju pada salah seorang anak yang saat itu sedang main sepak bola dengan temannya. Tertegun lama, hingga saya mencolek teman panitia yang lain disebelah saya.

“Liat tuh, anak itu, salut pada teman-temannya yang tidak memperlakukan dia diskriminatif”.

Ya…seorang anak, dengan kondisi POLIO ikut lari-lari mengejar bola dengan kira-kira 10 orang temannya. Si anak waktu itu jadi Penjaga Gawang. Tak sungkan dengan tugasnya sekalipun polio, dan sang teman juga tak sungkan bermain dengannya. Sebuah pemandangan yang luar biasa.

Inilah pembelajaran paling berharga, bahwa anak-anak lebih arif menerima perbedaan dan tidak pernah melakukan perlakuan diskriminatif.

Koreksi bagi diri kita para orang dewasa, apakah kita akan mengajarkan kepada anak kita bahwa perbedaan itu adalah biasa, ataukah kita rusak hati suci anak-anak kita dengan pikiran dangkal orang dewasa.

Semoga kita selalu bercermin kepada anak-anak.

Iklan

3 thoughts on “…belajar arif dari anak-anak kita…

  1. betul Imoe, sikap itu yang harus ditanamkan pada anak-anak, dibina dan dipupuk agar dilanjutkan terus sampai dia dewasa. Aku juga pernah kagum pada pendidikan di TK dan SD di sini yang memberlakukan sama pada anak2 yang cacat (sudah pernah kutulis di TE dalam 2-3 tulisan). Dalam pertandingan olahraga, pentas seni, anak yang cacat dibantu guru dan teman-temannya IKUT Partisipasi dalam kegiatan kelas. Duh waktu melihat seperti ini semua orang tua ikut terharu.

    EM

    • iya mbak, aku juga udah pernah baca yang mbak tulis, terus terang saya terharu waktu melihat itu dan akhirnya waktu itu, kami semua ikutan bermain bola….dan ternyata seru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s