…Menuliskannya Membuat Saya Meneteskan Air Mata…

Standar

Ini soal Mentawai.

Semua sudah tahu kalau mentawai di ujung tahun 2010 porak poranda akibat gempa dan tsunami,  nyaris tidak ada yang tersisa.  Awalnya semua berbondong-bondong kesana menyalurkan bantuan.  Tetapi satu persatu kemudian menyelesaikan aktivitas kemanusiaan, sekalipun situasi dan kondisi disana masih belum benar benar pulih.

Sedih sekali mendengar cerita kawan-kawan saya yang baru kembali ke Mentawai.  Sekalipun saya tidak bisa kesana melihat sitausi langsung, tapi cerita teman yang berkegiatan kesana membuat saya benar benar pilu.

Akhir desember 2010, secara perlahan namun pasti satu persatu organisasi internasional yang bekerja di mentawai mulai menutup programnnya.  Walalupun ada sekian banyak dana yang di tinggal di mentawai dan di tawarkan bagi organisasi yang mau bekerja, tetapi yang dibutuhkan oleh mentawai saat ini adalah TEMAN untuk BERBAGI.

Kami memang tidak berangkat ke mentawai di saat awal-awal bencana.  Karena untuk berangkat, kami belum memiliki persiapan, terutama secara finansial.  Maka lebih kurang 3 bulan kami mengumpulkan recehan untuk berangkat kesana.  Kami datang ketika sudah ada yang siap siap meninggalkan Mentawai.

Dari teman saya dapat cerita, bahwa saat ini masyarakat mentawai benar benar butuh dukungan.  Akses yang sulit menjadikan harapan itu semakin sulit terwujud.  Mau dikata apa.  Apalagi masih beredar isue bahwa gempa yang maha dahsyat dan tsunami maha dahsyat siap mengancam perairan mentawai.  Pasti banyak sedikit isue ini membuat banyak orang yang akan berangkat ke mentawai, memikirkan kemungkinan kemungkinan terburuk, belum lagi ancaman malaria di daerah endemik seperti itu, tambah lagi akses air bersih dan segala macam.

Hingga suatu kali, teman saya yang kesana berkata.

“Bang, lihat foto ini.  Ini ungkapan bahwa mentawai masih butuh teman dan dukungan”

Sedih memang melihat anak-anak melukiskan kata kata dalam sebuah kertas yang berbunya….INDONESIA KAMI MASIH ADA.  Tidak tahu dari siapa ide foto tersebut, tapi menurut teman teman saya, itu bentuk curahan hati anak anak mentawai terhadap situasi yang ada saat ini.

Katika tim kami pulang dari mentawai (pulang karena kehabisan uang heheh), semua sedih.  Merasa menjadi orang yang tidak bisa berbuat banyak, sementara banyak hal yang bisa di kerjakan disana.  Kami ingin kembali, mengenang mentawai dalam situasi kini, adalah sebuah poses emosional yang sulit untuk dilupakan.

Mentawai memang jauh.  Butuh 12 jam mengarungi samudera.  Tapi kami tetap ingin kembali.

INDONESIA, MENTAWAI MASIH ADA.

Iklan

8 thoughts on “…Menuliskannya Membuat Saya Meneteskan Air Mata…

  1. memang sulit kalo pusat juga sama sekali tidak mau ikut campur tangan… sampai selesai. Apalagi dengan ucapan seseorang, “Salah sendiri mau tinggal di pulau” hmmm,….
    Aku seringkali bertanya, Indonesia itu berTuhan tidak ya? Kalau berTuhan semestinya cinta sesama dan tidak akan membiarkan saudara kita sengsara dong?

    EM

  2. Imoe,
    Senang mendengar ceritamu bersama teman-teman mu.
    Mungkin masih banyak orang mau berbagi, tapi tak banyak yang merelakan waktunya untuk terjun langsung dilapangan dalam jangka waktu lama.
    Tentunya pemerintah daerah harus terus memantau, memberikan dulungan dan uluran tangan..

  3. Sedih sekali membacanya bg. Apalagi ditambah komen mbak imelda. Apakah negeri ini memang ditakdirkan selalu mendapat bencana
    wartawan saja bs dikatakan “malas” untuk meliput,karena susah nya akses, atau pemerintah pusat bahkan pemerintah provinsi sekalipun terkesan cuci tangan.
    Benar sekali bg, disana seolah relawan yg bekerja keras dan pemerintah lokal absen dan tampak menjadi penonton. Sedih

  4. membaca tulisan ini, juga membuat saya meneteskan air mata…
    Imoe… biarkanlah orang-orang tidak peduli dengan Mentawai, tapi tidak dengan kita. Insya Allah masih banyak tangan-tangan tak terlihat yang selalu berbuat untuk pemulihan Mentawai… Teruslah berbuat Imoe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s