…Ternyata Dia Hebat…

Standar

Namanya Yogi.  Lahir tahun 1999.

Saya tidak sengaja ketemu dia.  Waktu itu saya berkunjung ke rumah salah seorang Pengurus Forum Anak di Kota Pariaman.  Disanalah Yogi berada.  Anggota baru keluarga tersebut.  Karena saya sudah sering ke rumah itu, melihat anggota baru sayapun bertanya.

“Khalid, yang ini siapa ?”  Tuan rumah bernama khalid.

“Yogi bang, sepupu saya.  Baru tinggal bersama Ibu disini”.

“Dulu tinggal dimana ?” Sya atanya lagi.

“Padang bang..”

“Lho, kok pindah ke kampung ?”  Maksud pertanyaan saya lebih kepada ingin mencari tahu, kenapa ini anak mau pindah ke kampung, meninggalkan Padang, kota yang lebih rame.  Bukankah anak seusia itu lebih suka kota yang rame (setidaknya penilaian sementara saya).

“Iya bang, ibunya baru saja meninggal dunia.  Ibunya Yogi.  Adik Ibu saya…”

“Oooooooooooooooooooo”

Itulah awal ketemu dia.  Selanjutnya tak pernah ketemu lagi.

Beberapa minggu kemudian, SMS Khalid masuk.

“Bang, aku mau ke Padang bersama Yogi, jemput di stasiun kereta api ya…”

“Ok deh…….”

Saya jemput, ketemu dan kemudian memboyong tuh anak-anak belasan tahun ke Posko Rumah Semut (posko tempat dimana seluruh aktifitas di susun).  Posko ini selalu rame setiap akhir minggu oleh anak anak dari berbagai daerah, yang datang ke Padang hanya sekedar jalan-jalan dan memanfaatkan fasilitas di posko sebagai tempat untuk nginap.

Ketemu Yogi lagi tentu.  Dari stasiun, saya ajak anak-anak itu makan dulu.  Maklum, Pariaman dan Padang dengen kereta api cukup jauh, 2 jam perjalanan.  Belum lagi dari Rumah khalid ke stasiun di Pariaman, jauh juga.  Lha, kampungnya aja jauh ke pelosok kota pariaman hehehehe.

Malam itu, di posko rame.  Banyak teman-teman relawan yang menyiapkan acara tahun baru dan ada beberapa pengurus Forum Anak dari daerah lain yang ingin ber tahun baru di Posko.

Si Yogi duduk termenung.  Saya kagetkan dia.  Dia ketawa saja.  Tapi saya tahu, pasti dia ingat Ibunya, yang belum sampai 20 hari meninggalkan dia.  Sejak Ibunya meninggal, adiknya tinggal bersama saudara lain, abangnya juga demikian.  Saya tak bisa bayangkan betapa sedinhya dia berpisah dengan saudara-saudaranya yang lain. Sang bapak juga tidak berada bersamanya, karena alasan tertentu (saya tak mau sebutkan alasannya).

Hari ini saya ketemu Yogi kembali.  Sudah agak lebih kenal dan sudah gampang ngobrol.  Karena dia anak cukup terbuka.

Semual saya mau buru buru pulang.  Hanya sekedar mau menanayakan nama lengkap, tempat tanggal lahir dan sekolah yang baru, karena Yogi mau di ikutkan kegiatan Pelatihan Jurnalistik akhir Januari 2011 ini.  Itung-itung buat dia refresh dan sedikit menghilangkan kesedihan.

Saya tak jadi buru buru pulang.  Pembicaraan berlanjut hingga jam 8 Malam.  Saya begitu surprise, ketika ternyata Yogi anak yang hebat.  Dia atlet senam lantai.  Mendapatkan 2 medali perak dalam kegiatan olimpiade seni dan olah raga siswa beberapa waktu yang lalu.  Sekarang dia tidak latihan lagi.  Berhenti sejak ibunya meninggal dunia. Dari dia saya tahu, kalau ibunya seorang penjual goreng pisang.  Dari dia saya tahu kalau bapaknya bekerja sebagai penjual obat keliling (sekarang berdomisili di pekanbaru) dan sebagainya.

Lalu, iseng-iseng obrolan kami sampai ke soal Kemenengan tim sepak bola Semen Padang melawan Pelita Jaya.  Sepupu Yogi menyela.

“Baru kali ini, kamu nonton bola di TV kan.  Sebelumnya langsung di lapangan.”

“IYa….”

Saya sedikit bingung lalu tanya.

“Emang kalau sebelumnay nonton bola dengan siapa ?”

“Dengan Ibu saya bang”.

“Lho, ibu candu nonton bola juga ?”

“Hehehe iya bang, setiap SEMEN PADANG main, selalu nonton.  Ibu kan Suporter SPARTACK sebutan untuk suporter sepak bola Semen Padang).  Ibu anggota tertua bang di Spartack”.

Wahhhhhhhhhhh kaget juga saya dengarnya.  Ternyata, sang Ibu juga bukan orang bias.   Orang istimewa menurut saya.  Mencintai olah raga dan mendedikasikan dirinya sebagai pendukung setia Semen Padang.

Wah……….makin lama kita gali dan bercerita dengan seseorang, maka makin banyak yang kita pelajari dari diri orang tersebut.  Sekalipun dia seorang anak belasan tahun.

Saya mulai kagum dengan kekuatan Yogi, menerima kenyataan tidak bersama Ibu lagi.  Sekalipun saya tahu, ada saat saat dimana saya saksikan dia tertegun dan termenung.  Mungkin dia ingat Ibunya.

Hmmmmm jadi teringat Emak saya di kampung hik hik hik.

Saya tuliskan ini untuk menghormati kekuatan Yogi dan anak-anak lain yang senasib dengan Yogi (kehilangan kehangatan Ibu dalam usia yang sangat belia).  Berterima kasih juga kepada Ibu Khalid yang telah mau menerima Yogi jadi keluarga baru, sekalipun hidup tidaklah mudah bagi keluarga ini.  Keluarga sederhana yang ada di kampung.  Tetapi mampu membesarkan anak dengan kasih.

Iklan

4 thoughts on “…Ternyata Dia Hebat…

  1. semoga Yogi bisa tetap semangat mengembangkan bakatnya.

    Imoe, aku tidak pernah menganggap anak yang jauuuh lebih muda dari aku itu remeh.
    Kadang mereka jauh lebih hebat dari aku. Karena setiap individu itu unik dan mempunyai kelebihan tersendiri. Aku tidak pernah memperhatikan usia untuk belajar menjadi dewasa.

    EM

    • Saya setuju 1000% dengan pendapat Nechan ini.
      Inspirasi dan pembelajaran bisa datang dari siapapun, apapun keadaannya dan berapapun usianya. Adalah sebuah kesalahan terbesar bagi seorang dewasa yang pongah dengan kedewasaannya dan tidak mau belajar dari yuniornya. Dan, sejujurnya, sayapun banyak belajar dari Imoe, tentang banyak hal… 🙂

  2. Imoe… sepertinya Yogi ditakdirkan untuk bertemu Imoe, agar dapat dibina terus. Tuhan telah mempertemukan Yogi dengan orang yang sangat tepat. Maka, lakukanlah yang terbaik untuknya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s