…sendal lebaran…

Standar

Siang itu, di rumah saya tiduran.  Capek, maklum habis nyuci satu baskom penuh, apalagi bulan puasa, wuihhh gak kebayang rasanya, gimana rasanya jadi pembantu rumah tangga.  Pasti lebih capek lagi.  Tapi banyak orang yang gak menghargai jasa-jasa para pekerja rumah tangga itu.  Danmalah ada yang tega menyiksa, padahal sudah dimudahkan urusannya.

Saya tidak akan cerita soal pembantu, ataupun cucian.  Sedang asyik asyiknya tiduran, seorang anak tetangga, beberapa rumah dari tempat saya datang dengan kantong plastik di tangan.  Meminta sesuatu.

“Om, ada jarum pentul gak ?” dia nanya barang yang gak saya punya.

“Buat apa jarum sama kamu ?” Saya tanyai anak yang usianya sekitar 10 tahun itu.

“Buat ini om” Si anak mengacungkan kantongnya.

“Sebentar, Om cari dulu..”

Lanjutkan membaca

Iklan

…kopdar dengan sang bunda ratu…

Standar

Saya memang menunggu tanggal 20 Agustus 2011 sebagai tanggal menuliskan cerita singkat ini.  Kenapa demikian, konon kabarnya tanggal ini adalah jadwal keberangkatan Mbak Imel menuju Tokyo.  Pasti semua juga telah pada tahu, kalau narablog kita yang satu ini adalah ratunya kopdar (setidaknya begitulah kata DM) waktu pesta di Belleza Suite berlangsung.

Terus terang saja, waktu si Catra Prathama memajang foto kopdar bersama Mbak Imel di Bandung, saya sedikit kecewa.  Kenapa tidak, agenda kopdar yang sebetulnya sudah kami rencanakan jauh-jauh hari bersama sang ratu, tiba-tiba berubah saja.  Saya di telikung ditengah jalan (hehehe) perbuatan curang, saya didahului (heheh).  Tapi tak apalah, namanya juga kesempatan datang pada waktu itu di Bandung, apa salahnya Catra mengambil kesempatan itu.  Tinggalah saya merana sendiri (huahuahua).

Sebetulnya nyaris saja rencana saya terbang ke Jakarta untuk ketemu sanag “Bunda ratu” gak kesampaian.  Setiap hari saya online selalu cek status harga tiket ke Jakarta.  Astaga…Mahal….., mahal untuk ukuran saya yang punya kantong pas-pasan.  Tapi yang namanya berusaha, terus dilakukan. Cek terusssssssssss, hingga akhirnya kabar baik itu datang.

“Hallo, Bapak Muharman, kami dari bla bla bla, mengundang Bapak untuk rapt hari Rabu hingga Jumat, temapt di Bogor.  Seperti yang telah kita agendakan sebelumnya, tapi jadwal sengaja kami majukan atas saran Bapak dan kami setuju untuk mengantisipasi melonjaknya harga tiket menjelang lebaran…”

Lanjutkan membaca

…kacamata dua…

Standar

Bagi orang yang berkacamata minus seperti saya, jika berpergian maka barang wajib nomor dua yang harus dibawa lebih dari satu adalah kacamata, setelah ban mobil (itupun kalo pake mobil dong).  Hal ini baru benar benar saya rasakan manakala kejadian beberapa waktu yang lalu.

Entah kenapa sebelum berangkat ke luar kota, adik saya sempat tanya..

“Kacamata yang satu lagi mana bang ?’

“Ada tuh, bawa satu aja, ntar kalau bawa dua malah repot..” iseng santai saja menjawab.

Mungkin karena si adik tidak begitu antusias sosl kacamata atau hanya sekedar tanya, jadilah kami berangkat ke luar kota dengan bermodal satu kacamata.  Sttt tentunya juga modal uang dan tiket.

Hari pertama dan kedua , tidak terjadi hal yang mengkuatirkan dengan kacamata saya.  Memasuki hari yang kedua setengah, tragedi itupun terjadi.  REntah karena keasyikan, atau tidak peduli, atau terlalu cuek.  Terjadilah sesuatu yang membuat saya sangat kuatir.  Malam itu saya dan adik nonton Harry Potter di XXI Botani Square Bogor.  Syukur alhamdulilah, tidak lagi antri bejibun kayak beberapa waktu belakangan.  Tak perlu lama lama antri walaupun boleh dikata tidak juga sepi.

Lanjutkan membaca

…ajarin menulis bang…

Standar

“Bang, ajarin nulis dong…”

Tiba tiba saja sebuah sambaran obrolan di FB muncul.  Dari Zikra, teman muda baru.

Anak berkacamata minus ini memang bersemangat.  Setidaknya itu terlihat dari cara dia bertanya, memperhatikan orang bicara dan kemudian menanggapi satu satu tapi padat.  Dari pengakuannya, sudah lama dia ingin mengunjungi tempat saya dan adik-adik berkumpul merencanakan kegiatan.

Tapi obrolan di FB yang meminta saya jadi ‘guru tulis’ adalah sesuatu yang membuat saya berfikir dua kali untuk melakukannya.  Bukan tidak mau, tapi jujur saja belum sanggup hehehehe.

“lha…kok minta abang jadi guru menulsi siy ?” saya bals tuh chat an dia.

“Iya, barusan baca blog abang dan enak aja..” weleh weleh, ternyata baca blog saya…

“Mau ya bang ?…” Setengah membujuk dia.

“Hmmmm” saya mulai berfikir, apa yang akan dikatakan.  Menyanggupinya belum tentu menjadi orang yang tepat untuk itu.  Menolaknya, juga gak baik karena si anak lagi bersemangat.  Merekomendasikan orang untuk tempat belajar juga tak tahu harus kemana. Akhirnya saya putuskan untuk mencari solusi bijak.

Lanjutkan membaca

…kartu babi…

Standar

Puasa ke dua ramadhan 2011.  Ini ramadhan kedua yang saya tempuh di Kota Pariaman.  Bedanya dengan tahun yang lalu adalah bahwa tahun ini saya lebih mampu menguasai kota ini, trutama titik titik dimana orang-orang berjualan beraneka makanan untuk buka puasa.  Beda dengan kota besar lainnya, harga makanan di daerah ini terbilang murah, mungkin karena kota ini kota kecil dan yang bertransaksipun tidak terlalu banyak.  Tahun inipun saya sudah mulai menyatu dengan banyak komunitas anak yang ada di kota ini.  Beberapa telah juga berinteraksi dengan berbagai kegiatan yang pernah kami laksanakan.

Sebut saja Ito, anak usia 14 tahun.  Saya sering berkunjung ke rumahnya.  Ada daya tarik tersendiri kalau malam hari di rumahnya, apalagi kalau bukan warung ayahnya.  Warung yang dibuka setiap malam ini menyuguhkan minuman TEH TALUA (teh telur) yang enak banget.  Entah kenapa, saya terpesona melihat cara mengocok telur dalam gelas yang menggunakan lidi-lidi yang di ikat layaknya sapu lidi kecil.  Dengan menggunakan itu, hasil kocokannya sempurna.  Pesona lain adalah bapak-bapak yang duduk berkeliling, membisu hingga berjam-jam, memainkan kartu KOA (saya gak tahu nama lainnya, orang minang bilangmain koa).  Entah dari mana permainan ini, kata orang berasal dari cina, sejenis kartu warna hitam, dengan ragi ragi tertentu.  Sebetulnya permainan ini telah lama saya ketahui, hanya saja tak mau ambil pusing memikirkan kartu yang banyak model tersebut, dulu saya mengira aneh.  Tapi begitu mengetahui nama-nama setiap kartu lucu-lucu, saya tertarik juga untuk mencoba memahami permainan tersebut.  Bayangkan, ada yang ngasih nama KEPALA BABI, BABI BUNTING, HIU, dan segala macam nama yang lucu.  Kebayang gak, kalau suatu ketika ada yang lagi main bilang ke temannya kalau dia punya kartu BABI, akan berucap “babi ndan..” (babi teman).  Kadang kadang saya tertawa sendiri mendengar celotehan orang orang tua yang lagi main itu.  Tapi tak satupun yang ngerasa itu adalah olok olokan, karena memang itulah adanya.

Lanjutkan membaca