…Butuh Kesabaran Ekstra…

Standar

Siang tadi saya di temui salah seorang teman yang juga sehari-hari membantu menangani korban tindak kekerasan terhadap anak. Sebut saja SUSI. Terpaksa kerjaan yg sedang menunggu saya hentikan, saya harus meladeni para relawan ini dengan baik, karena sudah mau bekerja tanpa imbalan.

Dia membawa seorang anak. Siapa lagi kalau bukan MIKI (sebut saja begitu namanya). Sambil tersenyum saya sapa miki. Dia balas tersenyum, lalu menyalami saya.

Bu SUsi curhat. Bahwa Miki sejak hari ini dikebalikan pihak panti lagi, karena pihak panti tidak sanggup mengasuh Miki lagi. Saya lalu ingat sejak setahun lalu merekomendasikan Miki ke panti di Padang karena memang telah menjadi korban tindak kekerasan oleh Ibu Kandungnya. Miki di pukuli, tidak disekolahkan, disuruh dagang gorengan dan kalau dagangan tidak habis, kena siksa. Kami terpaksa ambil Miki pada waktu itu, karena Ibunya sudah tidak peduli dengan dia.

Setahun berselang, sejak di tempatkan di Panti, tiba-tiba Miki di pulangkan. Ikut juga pengasuh panti mengantar pulang kembali ke Ibu Susi.

Versi Ibu Panti :
” Saya sudah ampun pak mengasuh Miki, tidak sanggup lagi. Sebetulnya saya sayang sama Miki, tapi karena perangai jeleknya itu, saya gak kuat. Palagi saya hanya beberapa orang saja yang jadi pengasuh di Panti itu ” Ibu panti mengasih prolog panjang soal perangai Miki. Sudah nyerocos panjang tapi tak satupun kesalahan Miki disebut. Hingga akhirnya…

“Dia sering pulang telat, main bola sampai magrib. Berani mulai mencuri, dan terakhir mulai ngintip kakak pantinya mandi, jadi kami tidak tahan lagi…”

Karena saya tidak suka ibu itu membeberkan kesalahan Miki di depan org banyak, saya lalu potong ucapan dia.

“Iya bu, kami beterima kasih atas usaha ibu selama satu tahu. Saya yakin Miki mulai menunjukan perubahan, waalupun masih ada kekurangan yang kita lihat. Tapi paling tidak Miki sekarang Beda dengan Miki setahun lalu. Kalau ibu tidak sanggup lagi, tidak apa-apa, kami akan cari alternatif lain. Saya yakins ekali Miki akan berubah jauh lebih baik, karena setiap orang ber proses”

Si Ibu lalu diam dan mulai ngeles….

“Kalau nanti Miki mau balik lagi ke panti kami, silahkan, tapi mohon di perbaiki perilakunya dulu…”

Saya makin bosan denger curhatan Ibu itu…

“Iya bu gak papa, mudah-mudahn segera. Ngurus anak memang butuh kesabaran ekstra bu, ngurus anak sendiri aja susah, apalagi anak org lain….”.

SELESAI…lalu ibu itu pergi, tinggalkan Miki. Sore itu juga Bu Susi Mengantar Miki Ke sebuah pesantren. Semoga Miki Jadi lebih baik…

Iklan

…disini saja…

Standar

Disini Saja

Sedikit Saja Kau Jauh, Aku Tak Kan Bisa

Kemanupun Kau Pergi, Aku PAstikan Aku Rindu

Dimanapun Aku Berada, Kau Pasti Ada Disisiku, Sekalipun Tak Nyata

Apapun Itu. Disini Sajalah Denganku

“Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML“.

…semua saya punya…

Standar

Ini postingan pertama setelah status saya berubah dari LAJANG menjadi MENIKAH (cieeeeeee).  Yang mau saya ceritakan bukan soal seluk beluk pernikahan, atau senang-senag ala penganten baru, tapi justru saya akan ceritakan soal kegandrungan saya dengan novel karya Tere Liye.

Ketertarikan saya sebetulnya dengan karya Tere Liye berawal dari sebuah sampul novel yang berjudul PUKAT.  Beberapa bulan yang lalu saya membelinya.  Tapi saying kesibukan mengurus tetek bengek pernikahan membuat novel itu menganggur, teronggok dengan indahnya dan tak keluar keluar dari bungkus plastic dan tentu saja masih ada label harga (heheh).  Hingga akhirnya, setelah semua kemeriahan pesta pernikahan usai, saya sedang cuti ngantor, sang istri dengan kesibukannya (alias tidak dapat cuti, hanya izin) maka si PUKAT saya buka, baca dan ehhhh tak mau berhenti.  Maka habislah pukat dalam satu hari (hahahah).

Lanjutkan membaca