…TRAGEDI SEPAK BOLA BOCAH…

Standar

Hari Sabtu. Libur kantor. Biasanya kerjaan saya tidur atau kalau nggak nonton. Tapi entah kenapa hari itu, saya ke rumah kontrakan lama. Ada kabar bahwa rumah lama yang saya kontrak, pagarnya di ganggu orang dan berhubung Ibu pemilik rumah masih mempercayakan pengawasan rumah kepada saya, maka amanah itu harus sayajalankan sebaik mungkin.

Siang itu saya menuju kontrakan lama.
Sampai di gang masuk ke rumah, dihalaman depan saya lihat sekelompok anak-anak kecil usia 8 tahunan lagi main bola. Sudah bisa dimaklumi kalau anak-anak lagi main bola, ributnya minta ampun. Salah seorang anak menegur saya.

“Om….” Saya tahu, ini anak tetangga depan rumah. Nama persisnya saya tidak ingat, tapi dia anak yang supel, karena hamper 2 tahun saya ngontrak rumah disana, kalau ketemu dan berpapasan selalu menyapa saya.

Saya lalu masuk ke dalam rumah. Ambil sapu dan sekedar bersih-bersih. Diluar masih rebut. Tak sampai 15 menit, lalu saya dengar ribut-ribut diluar. Suara seorang Ibu menjerit-jerit.

“Tolong… astagfirulllah, darah, banyak…” Sepenggal-sepenggal saya dengar kalimatnya. Dan saya berkesimpulan ada yang luka. Saya berlari keluar dan saya lihat si Ibu menggendong anak yang menyapa saya tadi, sambil bolak balik gak tau harus gimana. Saya dekati dan saya lihat, pelipis kiri anak itu luka robek dan dalam. Saya pegangi lukanya supaya darah tidak mengalir, tapi apa daya, karena lukanya dalam, saya kemudian putuskan untuk bawa ke rumah sakit.Sang ibu masih menjerit-jerit. Dalam paniknya dia berkata…

“Tolong…awak indak bapitih, awak indak bapitih, awak indak bapitih (saya tidak punya uang..)”

Glekkkk, mendengar itu saya kaget, tersentuh sekaligus terharu. Dalam kondisi yang berbahaya, sang Ibu ketakutan tidak bisa bayar biaya untuk berobat. Dalam pikiran saya, sebegitu sulitkan orang miskin dinegeri ini mendapatkan pelayanan kesehatan ?.
Si anak masih dalam gendongan saya. Saya tenangkan dia..

“Jangan nagis ya…om pegang niy lukanya, ntar kalo nangis nanti darahnya keluar lagi…”. Cukup mempan, sia anak kemudian diam. Hanya tergugu gugu kecil.

“Ibu, cepat naik ke motor saya, pegang anak ibu, kita bawa kerumah sakit” Saya intruksiskan si Ibu.
“Saya tidak ada uang Om..” Beliau jawab lagi.
“Sudah, nanti kita pikirkan, kia ke rumah sakit saja..” Akhirnya mendengar itu, si Ibu nurut.

Kami bertiga lalu meluncur ke Rumah Sakit. Sampai di klinik bersalin, kami di tolak karena menurut perawat, dokter lagi tidak di tempat. Saya langsung bawa ke Rumah Sakit Umum. Sampai disana, langsung masuk UGD, langsung mendapatkan penanganan.
Saya langsung keluar ruangan, memberikan kesempatan dokter bekerja. Saya lalu membersihkan tangan yang terkena darah. Hampir 20 menit saya di luar, sang Ibu keluar juga, mencari saya.

“Om, masuk om, di Imas menanyakan Om nya…” Baru saya tahu, ternyata itu anak namanya IMAS, padahal sudah 2 tahun saya bertetangga dengan dia. Malah hari itulah percakapan saya pertama kali dengan Ibu Imas setelah 2 tahun dia bertetangga dengan saya (alangkah sombongnya saya ya, saya jadi menyesal..).
Saya masuk, lalu saya dekati si Imas. Dia reatif tidak rewel selama proses menjahit pelipisnya. Kata dokter butuh 8 jahitan luar dan dalam.

“Om…sini aja, jangan kemana-mana…” Si Imas tiba tiba minta saya tetap disana.
“Iya, om disini aja kok…” Saya hanya senyum, heran juga, saya gak terlalu dekat dengan dia, hanya selama ini sekedar nyapa doing, tapi hari itu Imas merasa bahwa kehadiran saya sangat menenagkan dia yang lagi sakit. Ya, saya turuti aja, biar proses jahit jahitnya selesai.
“Om…baca apa om…?” Tiba-tiba Imas Tanya.
“Baca apa maksudnya Mas ?, Om ndak baca apa-apa…”
“Maksud Imas, ayat apa yang dibaca, biar gak sakit….”
Ooooo akhirnya saya tahu, Imas bertanya, ayat Al Quran apa yang harus di baca biar dia tidak sakit selama penjahitan.
“Hmmmm baca apa ya, yang Imas bisa apa ?
“Kulhuallahuahad aja om…”
“Iya..gak papa, baca itu aja ya…”
Tak berapa lama….
“Udah selesai om, baca apa lagi…?”
“Hahahah saya ketawa dalam hati, ini anak lugu banget, baca Alhamdulillahirablil alamin, Kua’uzubirabninash, tabat yada aja…” Saya dorokan 3 ayat sekaligus. Lalu saya liat dia komat-kamit.

Hampir satu jam, proses penjahitan selesai. Lalu Imas di suntik. Kata dokter itu suntik untuk melihat reaksi alergi dan kami disuruh menunggu reaksi selama 2 jam. Selama menunggu tersebut, Ibu Imas dihampiri petugas, menyodorkan resep yang harus ditebus di Apotik. Sedikit ragu ibu Imas melirik saya. Saya maklum lalu mengambil resep tersebut dari tangan petugas. Saya ke apotik, lalu menebus. Kaget juga, begitu melihat nominal yang lumayan. Saya tertegun, jumlahnya lumayan juga, padahal besoknya saya dengan istri mau berangkat ke luar kota. Tapi naluri menuntun saya untuk “menyelesaikan urusan” yang sudah saya masuki ini. Saya pikir, kalau rejeki tak akan kemana. Tanpa pikir panjang, saya lunasi, lalu kembali ke UGD. Imas saya lihat mulai tertidur.

Selama tidurnya itu, saya bercerita dengan Ibu Imas. Betapa beliau berterima kasih atas bantuan, menyampaikan tidak tahu harus bagaimana mengganti biaya pengobatan, bercerita kalau suaminya bekerja sebagai kuli angkut di pasar (kalau yang satu ini saya tahu, karena setiap senja melihat Bapak Imas pulang dari pasar membawa becak), sekali-kali bapaknya memulung, dan lain sebagainya.

Saya hanya diam dan berkomentar sedikit-sedikit saja. Bilang bahwa, menyesal juga karena selama ini terlalu sombong, gak pernah saling menyapa (mungkin karena saya selalu pergi pagi, pulang sore karena bekerja) dan segala alas an pembenaran lainnya.
Hampir dua jam, akhirnya dokter memutuskan Imas sudah bisa di bawa pulang. Saya antarkan mereka kembali pulang. Sesampai di rumahnya, saya kemudian menyerahkan kantong berisi susu yang sempat saya beli sewaktu menebus obat ke Apotik. Lalu berpamitan.

“Makasih ya om, Imas gak main bola lagi…” Tiba-tiba Imas nyeletuk, mungkin menyesal merasa merepotkan saya.
“Yaaaa, gak boleh begitu nanti kalau Imas sembuh, main bola lagi, tapi gak boleh dorong-dorongan ya, harus main dengan baik..OK”
“Iya om….”

Saya kemudian menghidupkan sepeda motor, lalu pulang ke rumah. Sampai di rumah saya ceritakan peristiwa itu ke Istri saya. Istri saya hanya tersenyum mendengarnya.

Iklan

10 thoughts on “…TRAGEDI SEPAK BOLA BOCAH…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s