…dia memutuskan berhenti…

Standar

Pukul 12.30 WIB.  Telepon seluler saya sedang dalam status ‘silent’.  Tentu saja panggilan masuk tidak bisa diketahui.  Ada sekitar 5 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.  Setelah di cek ternyata dari salah seorang adik bernama Khalid.  Lima kali panggilan, berarti ada hal yang pentig.  Saya masih menduga-duga ada apa gerangan.  Maksud hati hendak menghubungi balik, tetap malah keduluan.  Panggilan ke enam berhasil tersambung.

“Hallo, ada apa khlaid ?”

“Ini bang, tadi Reza menyerahkan buku tabungan beasiswanya, lalu dia bilang dia mau berhenti sekolah dan sore nanti akan berangkat ke Kerinci..”

Astagfirullah…saya tak bisa mengerti, kenapa bisa terjadi.  Khalid dan Reza adalah dua dari 32 orang anak yang masuk kedalam program beasiswa yang sedang kami jalankan, khusus bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan secara ekonomi, tetapi memiliki semangat untuk sekolah.  Mereka bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sekolah, oleh karena itu kami bermaksud mengurangi beban anak-anak tersebut melalui beasiswa ini.

Lanjutkan membaca

Iklan

…lagu dan badut untuk mentawai…

Standar

Orang-orang mulai melupakan mentawai, semua berbondong-bondang ke merapi.  Gak ada salahnya siy, tapi sedih aja melihat kenapa seolah-olah sanak saudara di mentawai di lupakan.  Hinga saat ini saja, seluruh relawan masih berkutan dalam situasi sulitnya penyaluran bantuan sembako dan peralatan hidup lainnya.  Tapi tak apa, yang penting semua kita masih tetap menginat bahwa masih ada sodara di sudut pulau sana.

Kami sangat ingin sekali kesana.  Ingin sekali berbagi dengan anak-anak disana, karena banyak anak yang kehilangan keluarga, menalami mungkin kecacatan, taruma karena masih terbayang dahsyatnya tsunami.  Tapi kami harus rela menunda keberankatan, karena sampai saat ini kami pun belum sepenuhnya memiliki amunisi cukup untuk memberankatkan tim ke sana.

Lanjutkan membaca

“Sejak Kapan Saya Jadi Makelar Kunci UN ?”

Standar

Malam hari sebelum Ujian Nasional dilangsungkan, saya sempat di SMS oleh beberapa orang adik-adik yang saya kenal.  Pesan yang mereka kirim intinya nyaris 100 % sama.

“Bang, ada dapat kunci UN gak ?”

“Bagi kunci UN dong…”
”O ya bang, takut niy gak lulus, kalo bang dapat bocoran kunci kasih tau ya…?”

Malah ada versi yang lebih vulgar…

Lanjutkan membaca

“proyek gila”

Standar

Minggu sore, saya dan 3 orang teman lain (Iben, Agung dan Ady) menuju Sari Anggrek di bilangan Permindo.  Tujuan kami satu yakni mencoba menggali informasi dan mencoba mendekati anak buta dan ibunya yang buta juga dan beraktifitas mengemis di depan pertokoan itu.  Sempat terjebak macet di Pasar Raya akibat menumpuknya angkutan umum di tengah jalan yang sempit, akhirnya kami berhasil parkir di depan toko itu.  Dari dekat sudah leihatan apa yang kami tuju.  Tapi kali ini berbeda, ada 2 orang anak gadis, dua ibu buta dan seorang anak usia 4 tahunan yang buta (yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya).

Kami kesulitan untuk mencari cara mendekati, karena saat itu kami lihat begitu ramai pengunjung toko, takutnya aksi kami nanti menarik perhatian orang lain dan tujuan semula buyar.  Kami putuskan masuk ke dalam toko, langsung ke lantai II dan memilih milih buku untuk dibeli (lantai II adalah toko buku).  Setelah 30 menit, dan saya sempat membeli satu buku, kami lalu turun dan kembali ke parkiran.  Kami lihat si anak yang buta tersebut sedang menangis.  Agaknya lagi kesal, ntah kenapa kami tak tahu.  Anak gadis dan ibu nya yang buta membujuk anak tersebut.  Tiga teman saya yang lain menuju parkiran, saya terhenti sesaat di depan mereka.  Saya lihat dan amati cara duduk mereka di trotoar di atur sedemikian rupa.  Di kiri dan kanan, duduk dua anak gadis yang juga menegadahkan ember, di tengah-tengah duduklah dua ibu buta yang menengadahkan ember juga dan anak kecil buta terakhir berkeliaran diseputar situ juga sambil menyorongkan meber kecil.

Lanjutkan membaca

“Saya Ingin Segera Ke Padang”

Standar

Ini hari Kamis, saya sudah tidak sabar lagi untuk segera ke Padang.  Maklumlah, beberapa waktu belakangan saya mulai bekerja sebagai “pelayan masyarakat” di Kota Pariaman.  Sebetulnya Pariaman dan Padang itu tidak jauh.  Hanya saja sementara ini saya memilih menetap di Pariaman ketimbang bolak balik ke Padang.

Saya tidak sabar…ingin segera pulang….ingin segera ke depan Supermarket SARI ANGGREK.  Sebuah tempat perbelanjaan di bilangan Permindo Padang.

Lanjutkan membaca

“Belajar”

Standar

Adakah satu hari dalam hidup, kamu begitu merasakan nikmat yang diberikan oleh Tuhan ?.  Bagun di pagi yang cerah, menikmati sarapan pagi ditemani segelas susu, menelusuri jalanan tanpa macet menuju tempat kerja, datang lalu duduk di meja kantor dan sesaat setelah itu atasan menyampaikan kabar gembira bahwa kerja keras anda di hargai dengan kenaikan pangkat.  Lalu kamu pulang, menyampikan kabar gembira ini kepada keluarga dan setelah itu kamu menghabiskan waktu dengan makan diluar bersama keluarga merayakan hadiah teindah itu. Senang

Lalu, adakah pula satu hari dimana kamu merasakan betapa Tuhan sangat benci kepada mu ?.  Telat bangun, jalanan macet, terlambat kerja dan dimarahi oleh atasan.  Parahnya lagi justru tak menyadari bahwa dompet kamu yang berisikan surat-surat penting tercecer entah dimana rimbanya.  Gusar, mengumpat dan pasti uring-uringan itu akan kamu bawa hingga ke rumah.  Kehadapan istri dan anak-anak.  Lalu anda menyesali diri.  Penyesalan memang lahir belakangan.

Lanjutkan membaca

…beginilah ceritanya…

Standar

IMG2362ASepuluh hari telah dilewati saat gempa besar mengguncang Sumatera getarannya begitu hebat hingga menyebabkan banyak sekali kerusakan.  Setelah kejadian, semua saluran komunikasi terputus dan listrik padam.  Tak ada kabar berita Sumatera Barat, khususnya Padang dan Pariaman seolah terisolasi jauh.  Setelah gempa berlalu dan perlahan komunikasi mulai lancar, banyak yang bertanya kepada saya, “sedang apakah saya saat kejadian berlangsung”.  Inilah sekelumit kisah menjawab pertanyaan itu.

Sore itu sangat terik.  Saking teriknya, tak secuil awanpun menggantung di angkasa.  Tidak ada tanda-tanda sesuatu yang besar akan terjadi.  Dua puluh menit sebleum gempa melanda, saya dihubungi oleh salah seorang adik, minta untuk dibantu membuat tugas sekolah.  Kebetulan saya sedang berada disebuah warnet langganan.  Langsung saja permohonan itu saya sanggupi “ayo datang aja ke warnet bla bla lantai dua’.  Tak berapa lama, akhirnya sang adik datang.  Tepat pukul 17.00 WIB.  Kamipun segera memulai mengumpulkan bahan untuk karya tulis.  Waktu terus berjalan.  Tak sampai 30 menit kemudian, saya merasakan getaran.  Saya memang orang yang sangat sensitif dengan getaran.  Saya kemudian berdiri dan kemudian memandang operator warnet, saya bilang “ada gempa”.  Tapi belum sempat kata kata saya dicerna oleh operator tersebut, tiba tiba sebuah goncangan hebat kami rasakan semua.  Sangat kencang sehingga membuat kita terjatuh.  Kebetulan saya berada di lantai dua dan sudah dapat dipastikan bahwa goncangannya lebih terasa.  Saya langsung lari ke arah pintu, kebetulan pintu warnet tersebut adalah kaca tebal.  Saya tarik…macet…….

Lanjutkan membaca