…DI BIM ADA PEDAGANG KAKI LIMA…

Standar

Rencana perjalanan jauh saya dengan istri memang telah lama tertunda.  Ada saja sebab yang menghalanginya.  Baru memasuki pernikhan pada bulan ke-3, saya bisa memenuhi janji untuk jalan-jalan.  Tujuan kami yang utama adalah Jogjakarta.  Hal ini atas permintaan istri yang sangat berkeinginan ke Borobudur.  Tapi tentu saja saya memberikan tawaran yang menarik.  Selain menikmati seluruh ke indahan dan pesona Jogja, saya juga menawarkan untuk singgah ke Solo, Bandung dan tentunya Jakarta.  Jadilah kemudian kesepakatan kami ‘perjalanan suka-suka’ alias tidak terpaku dengan satu tujuan, tetapi nikmati saja, kalau masih ada waktu, lanjutkan ke tempat lain yang mempesona, tentunya juga kalau masih ada uang tersisa (wkwkwkwk).

Sedari awal sebelum keberangkatan, saya bertekat untuk menuliskan hal-hal menarik yang saya temui selama perjalanan.  Apa saja, yang penting enak buat di tulis di Blog.  Dan inilah hal menarik pertama yang saya temui.

Lanjutkan membaca

…TRAGEDI SEPAK BOLA BOCAH…

Standar

Hari Sabtu. Libur kantor. Biasanya kerjaan saya tidur atau kalau nggak nonton. Tapi entah kenapa hari itu, saya ke rumah kontrakan lama. Ada kabar bahwa rumah lama yang saya kontrak, pagarnya di ganggu orang dan berhubung Ibu pemilik rumah masih mempercayakan pengawasan rumah kepada saya, maka amanah itu harus sayajalankan sebaik mungkin.

Siang itu saya menuju kontrakan lama.
Sampai di gang masuk ke rumah, dihalaman depan saya lihat sekelompok anak-anak kecil usia 8 tahunan lagi main bola. Sudah bisa dimaklumi kalau anak-anak lagi main bola, ributnya minta ampun. Salah seorang anak menegur saya.

“Om….” Saya tahu, ini anak tetangga depan rumah. Nama persisnya saya tidak ingat, tapi dia anak yang supel, karena hamper 2 tahun saya ngontrak rumah disana, kalau ketemu dan berpapasan selalu menyapa saya.

Saya lalu masuk ke dalam rumah. Ambil sapu dan sekedar bersih-bersih. Diluar masih rebut. Tak sampai 15 menit, lalu saya dengar ribut-ribut diluar. Suara seorang Ibu menjerit-jerit.

Lanjutkan membaca

…Butuh Kesabaran Ekstra…

Standar

Siang tadi saya di temui salah seorang teman yang juga sehari-hari membantu menangani korban tindak kekerasan terhadap anak. Sebut saja SUSI. Terpaksa kerjaan yg sedang menunggu saya hentikan, saya harus meladeni para relawan ini dengan baik, karena sudah mau bekerja tanpa imbalan.

Dia membawa seorang anak. Siapa lagi kalau bukan MIKI (sebut saja begitu namanya). Sambil tersenyum saya sapa miki. Dia balas tersenyum, lalu menyalami saya.

Bu SUsi curhat. Bahwa Miki sejak hari ini dikebalikan pihak panti lagi, karena pihak panti tidak sanggup mengasuh Miki lagi. Saya lalu ingat sejak setahun lalu merekomendasikan Miki ke panti di Padang karena memang telah menjadi korban tindak kekerasan oleh Ibu Kandungnya. Miki di pukuli, tidak disekolahkan, disuruh dagang gorengan dan kalau dagangan tidak habis, kena siksa. Kami terpaksa ambil Miki pada waktu itu, karena Ibunya sudah tidak peduli dengan dia.

Setahun berselang, sejak di tempatkan di Panti, tiba-tiba Miki di pulangkan. Ikut juga pengasuh panti mengantar pulang kembali ke Ibu Susi.

Versi Ibu Panti :
” Saya sudah ampun pak mengasuh Miki, tidak sanggup lagi. Sebetulnya saya sayang sama Miki, tapi karena perangai jeleknya itu, saya gak kuat. Palagi saya hanya beberapa orang saja yang jadi pengasuh di Panti itu ” Ibu panti mengasih prolog panjang soal perangai Miki. Sudah nyerocos panjang tapi tak satupun kesalahan Miki disebut. Hingga akhirnya…

“Dia sering pulang telat, main bola sampai magrib. Berani mulai mencuri, dan terakhir mulai ngintip kakak pantinya mandi, jadi kami tidak tahan lagi…”

Karena saya tidak suka ibu itu membeberkan kesalahan Miki di depan org banyak, saya lalu potong ucapan dia.

“Iya bu, kami beterima kasih atas usaha ibu selama satu tahu. Saya yakin Miki mulai menunjukan perubahan, waalupun masih ada kekurangan yang kita lihat. Tapi paling tidak Miki sekarang Beda dengan Miki setahun lalu. Kalau ibu tidak sanggup lagi, tidak apa-apa, kami akan cari alternatif lain. Saya yakins ekali Miki akan berubah jauh lebih baik, karena setiap orang ber proses”

Si Ibu lalu diam dan mulai ngeles….

“Kalau nanti Miki mau balik lagi ke panti kami, silahkan, tapi mohon di perbaiki perilakunya dulu…”

Saya makin bosan denger curhatan Ibu itu…

“Iya bu gak papa, mudah-mudahn segera. Ngurus anak memang butuh kesabaran ekstra bu, ngurus anak sendiri aja susah, apalagi anak org lain….”.

SELESAI…lalu ibu itu pergi, tinggalkan Miki. Sore itu juga Bu Susi Mengantar Miki Ke sebuah pesantren. Semoga Miki Jadi lebih baik…

…disini saja…

Standar

Disini Saja

Sedikit Saja Kau Jauh, Aku Tak Kan Bisa

Kemanupun Kau Pergi, Aku PAstikan Aku Rindu

Dimanapun Aku Berada, Kau Pasti Ada Disisiku, Sekalipun Tak Nyata

Apapun Itu. Disini Sajalah Denganku

“Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML“.

…semua saya punya…

Standar

Ini postingan pertama setelah status saya berubah dari LAJANG menjadi MENIKAH (cieeeeeee).  Yang mau saya ceritakan bukan soal seluk beluk pernikahan, atau senang-senag ala penganten baru, tapi justru saya akan ceritakan soal kegandrungan saya dengan novel karya Tere Liye.

Ketertarikan saya sebetulnya dengan karya Tere Liye berawal dari sebuah sampul novel yang berjudul PUKAT.  Beberapa bulan yang lalu saya membelinya.  Tapi saying kesibukan mengurus tetek bengek pernikahan membuat novel itu menganggur, teronggok dengan indahnya dan tak keluar keluar dari bungkus plastic dan tentu saja masih ada label harga (heheh).  Hingga akhirnya, setelah semua kemeriahan pesta pernikahan usai, saya sedang cuti ngantor, sang istri dengan kesibukannya (alias tidak dapat cuti, hanya izin) maka si PUKAT saya buka, baca dan ehhhh tak mau berhenti.  Maka habislah pukat dalam satu hari (hahahah).

Lanjutkan membaca

…empat bocah jujur…

Standar

Ini dia empat orang anak dari Pariaman.  Datang ke Padang beberapa waktu yang lau dengan niat Refreshing.  Maklum mereka habis ujian PRA UN dan ada ang mau PRA UN.  Maka seperti biasa, pastilah saya dan beberapa orang ikutan menemani, sekalian juga refreshing bareng.  Akhirnya tempat yang kami pilih adalah FUN STATION di Basko Mall.  Entah kenapa daya tarik permainan basket di FUN STATION cukup membuat kita semua kecanduan.

Kami melangkahkan kaki ke kasir dan segera mengisi kartu isi ulang sebesar 100.000,-.  Kami pikir cukuplah untuk main 5 orang.  Setelah mengisi, kami menuju TKP dan baru saja sampai di depan salah satu alat permainan basket ini, salah seorang menemukan HP Nokia N Series, dia kaget dan saya liat ada pikiran berkecamuk di kepalanya.  Antara ambil atau serahkan kembali ke pemiliknya.

Dari jauh saya liat saja anak ini.  Masih ragu-ragu dan membolak balik HP itu.  Yang lain mulai mempengaruhi.  Pedapat jadi terpecah.  Satu orang menyarankan ambil aja, satu lagi menyarankan balikin ke pemilik kalau di telepon dan seorang lagi terserah aja.  Nah, bingung kan.

Lalu saya dekati mereka dan tanpa ba bi bu HP tersebut saya ambil, saya kantongi lalu berkata “kita harus balikin”.  Sudah bisa diduga, kalau saya yang memerintahkan pasti mereka nurut.  Kami kembali main.  Setiap 10 menit anak yang menemukan selalu tanya ke saya “sudah ada yg telepon bang ?”.  Berharap sebetulnya tidak ada yang menghubungi, dan akhirnya HP menjadi milik dia (wkwkwkwkwk saya bisa duga pikirannya).  Hampir satu jam, tidak ada juga yang menghubungi hingga setelah itu ada sebuah SMS masuk berbunyi “Mama lagi dimana…? (Dari PAPA SOLEP)”.

Lanjutkan membaca